Kisah Teladan Umar Bin Abdul Aziz (3) ini masih rangkaian dari kisah teladan sebelumnya yaitu Kisah Teladan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz bagian 1 dan bagian 2 , kali ini kisahnya tentang :
- Saat Umar Bin Abdul Aziz Dibaiat Menjadi Khalifah.
- Orang Yang Zuhud, Adil Dan Rendah Hati
- Percakapan Dengan Putranya Setelah Jadi Khalifah
Selengkapnya Inilah Kisah Teladan Umar Bin Abdul Azis (3) itu :
1. Saat Umar Bin Abdul Aziz Dibaiat Menjadi Khalifah .
Dia dibaiat menjadi khalifah pada usia 37 tahun setelah wafatnya Sulaiman bin Abdul Malik , sebagai orang yang zuhud dia tak menyukai jabatan ini. Kemudian dia berbicara dihadapan orang-orang yang dia kumpulkan di mesjid untuk shalat berjamaah ; “ Wahai manusia ! Saya telah diuji untuk mengemban tugas ini tanpa dimintai pendapat, tanpa permintaan dari saya, atau musyawarah kaum Muslimin. Maka sekarang ini saya membatalkan baiat yang kalian berikan dan untuk selanjutnya pilihlah khalifah yang kalian suka!” Tetapi orang-orang yang hadir dengan serempak mengatakan, “Kami telah memilih engkau wahai Amirul Mukminin. Perintahlah kami dengan kebahagiaan dan keberkatan !” Setelah itu dia lalu menyuruh semua orang untuk bertaqwa, untuk tidak menyukai dunia dan menyukai akhirat, kemudian berkata, “Wahai manusia! Barang siapa menaati Allah, wajib ditaati, siapa yang mendurhakai-Nya tidak boleh ditaati oleh seorangpun. Wahai manusia ! Taatilah saya selama saya menaati Allah dalam memerintahmu dan jika saya mendurhakai-Nya tidak ada seorangpun yang boleh mentaati saya.” Lalu dia turun dari mimbar.
2. Orang yang Zuhud, Adil Dan Rendah Hati .
Dikisah yang lain , Dari Malik bin Dinar, dia berkata, "Orang-orang berkata, Malik bin Dinar adalah orang yang zuhud " , akan tetapi sebenarnya orang yang bisa dikatakan zuhud itu adalah Umar bin Abdul Aziz yang dikaruniai kemewahan dunia dengan segala isinya akan tetapi dia memilih untuk meninggalkannya."
Umar pernah mengumpulkan sekolompok ahli fikih dan ulama dan mengatakan, “Saya mengumpulkan tuan-tuan ini untuk meminta pendapat mengenai hasil tindak curang yang berada pada keluargaku (pejabat sebelumnya).” Mereka mengatakan, “Itu semua terjadi sebelum masa pemerintahanmu. Maka dosanya berada pada yang merampasnya.” Umar tidak puas dengan pendapat itu dan mengambil pendapat kelompok lain, di dalamnya termasuk putranya Abdul Malik yang mengatakan kepadanya, “Saya berpendapat, hasil-hasil itu harus dikembalikan kepada yang berhak, selama engkau mengetahuinya. Jika tidak dikembalikan engkau telah menjadi patner mereka yang merampasnya dengan curang.” Mendengar itu Umar puas dan langsung berdiri untuk mengembalikan hasil-hasil tindak kecurangan itu.
Kerendahan hati Khalifah Umar juga dapat digambarkan seperti saat menjamu Raja' bin Haiwah. Raja' bercerita saat bertamu pada malam hari saat lampu mati. Ketika ia berniat memperbaikinya justru Khalifah Umar bin Abdul Aziz melarang dan memperbaikinya sendiri. " Jika kamu duduk, maka aku tetap Umar bin Abdul Aziz (orang biasa yang tak perlu diistimewakan). Dan jika kamu berdiri, maka aku juga tetap Umar bin Abdul ‘Aziz yang celakalah karena memperkerjakan tamunya " , kata Umar.
3. Percakapan Dengan Putranya Setelah Menjadi Khalifah .
Sesampainya di rumah, Umar pergi ke tempat tidur untuk istirahat. Tetapi belum sempat membaringkan badannya, putranya, Abdul Malik datang menghampirinya. Ketika itu usia anaknya 17 tahun. Dia mengatakan, “Apa yang hendak engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?” “Oh putraku, aku hendak istirahat sebentar, dalam tubuhku tidak ada kekuatan lagi.” jawab Umar. Abdul Malik berkata lagi, “Apakah engkau istirahat sebelum mengembalikan hak yang dirampas dengan jalan curang kepada yang punya?” Umar menjawab, “Putraku, tadi malam saya begadang untuk mengurus pamanmu, Sulaiman dan nanti waktu Dzuhur saya akan shalat bersama orang-orang dan Insya Allah akan mengembalikan hak-hak yang diambil secara curang itu kepada yang punya.” Abdul Malik berkata lagi, “Siapa yang bisa menjamin dirimu akan hidup sampai Dzuhur wahai Amirul Mukminin?” Serta merta Umar berdiri, lalu mencium dan merangkul anaknya, serta mengatakan, “Segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkan dari tulang rusukku seseorang yang menolongku dalam beragama.” Seketika itu juga dia memerintahkan untuk menyeru semua orang, bahwa barang siapa pernah dicurangi orang lain, agar melapor. Umar pun mengembalikan hak-hak yang dirampas dengan curang itu kepada yang punya.
Source : Kisah Islam , dll
Technorati Tags: Kisah Teladan,Umar Bin Abdul Aziz
- Terima kasih telah mampir, yo kita saling vote dan saling comment ...
- Jika ingin pulsa murah gabunglah disini… ingat gabung atau tidak kita tetap membutuhkannya






22 comments:
Menjadi adil dan rendah hati itu sulitnya minta ampun. Tapi paling tidak mau belajar untuk adil dan rendah hati :).
Andaikan semua penguasa negeri ini mencontohnya.. ah makmurlah Indonesiaku
Subhanallah .. Cerita tentang Khalifah yang satu ini memang tak ada habisnya. begitu sarat dengan nilai2 keteladanan
Alhamdullilah akhirnya ada cerita yang memberikan Sauri Teladan yang baik
@ JengSri : Paling tidak kita belajar untuk itu ya jeng
@ Aditx : Makasih kalau memang cerita ada manfaatnya
bagaimana kita untuk meniru prilaku beliau,
Subhanallah, mudahan kita semua bisa meniru prilaku dan kebaikan beliau, untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, amiinn
Andaikan ada sosok pemimpin seperti ini di Indonesia saat sekarang...
*menghayal*
Mudah-mudahan masih banyak orang yang hidup bukan untuk dunia, melainkan untuk akhirat biar adem bumi ini.
Selamat malam...numpang lewat ah...nyari-nyari yg blum ketemu gk ketemu2 akhirnya mampirlah...salam
@ rumah blogger :
@ Sabirinnet
@ alam endah
@ tukang poto
Memang seandainya aja ada yang seperti itu atau miriplah.. niscaya kemakmuran bangsa ini akan terwujud.. bukan hanya mimpi ya mas alam endah
@ yusupman : malam juga sobat gimana yang dicarinya dah ketemu ???
alhamdulillah masih ada yg concern ttg umar sang pemberani
Andaisemua penguasa negeri ini bisa mencontohnya
Paling tidak dengan baca ini mengingatkan kita bahwa urusan akhirat juga perlu dipikirkan
Turut suport atas artikel ini
Kira2 di jaman sekarang ada gak ya pimpinan yang seperti ini
Kalau saya diangkat jadi penguasa.. bisa gak ya seperti itu.. kayaknya susah juga di jaman sekarang ini..
makasih banget artikelnya, moga jadi suri tauladan bagi kita.
mereka memang orang-orang yang patutu di contoh
@ Raini Munti : Saya memang tertarik dengan kisah2 khalifah yang satu ini selain khalifar Umar Bin khatab
@ sda : Semoga aja mbak Narti paling tidak sebagai pengingat dan pencerah jiwa kita
@ Karikatur : Benar sekali sobat makasih ya telah berkunjung n salam kenal
susah mencari pemimpin seperti umar sekarang, apalagi di indonesia.
kalo saya pernah didatangi 1 dari empat sahabat (antara mimpi dan tidak), tapi bukan yang ini, orangnya ganteng...masya alloh ya para sahabat ini. thanks atas artikelnya, o ya saya $undul deh :))
Post a Comment
Bagi sobat-sobat silahkan comment disini, Insya Allah saya comment balik di blog anda. Trims atas kerjasamanya